Minggu, 20 November 2011

Menggaungkan Kembali Esensi Perjuangan Kemerdekaan

Sudah menjadi rahasia umum bangsa ini bahwa kemerdekaan tidak diraih semudah membalikkan telapak tangan, dan merupakan sebuah proses yang amat panjang. Kita pasti sudah sering mendengar bagaimana alur sejarah bangsa ini, dari mulai zaman kerajaan sampai penjajahan, berlanjut ke masa perjuangan merebut kemerdekaan yang memunculkan sederet nama tokoh yang harus kita hafal untuk ujian sejarah di sekolah. Setidaknya, kita tahu siapa saja yang pernah menjajah negeri ini, dan kapan akhirnya tanah ini memperoleh kemerdekaan.
Namun, apakah memang benar kita sudah mengetahui sejarah bangsa ini? Atau memang hanya sekedar tahu, dulu Belanda datang menjajah, menguras isi negeri dan menyiksa pribumi, lalu para pahlawan datang dan merdekalah kita; begitu? Apakah perjuangan berdarah bangsa ini memang tidak terlalu kita mengerti, sehingga kita melihat hal itu sebagai hal yang sudah berlalu dan menjadi hafalan pelajaran sejarah di sekolah?
Saya menanyakan hal-hal diatas, karena jujur saja, hal itu pernah saya rasakan. Setiap mendengar kata ‘kemerdekaan’, saya langsung teringat pelajaran sejarah. Begitu juga dengan kata ‘penjajahan’, ‘Belanda’, dan yang berkaitan dengan masa itu. Saya melihat hal-hal itu sebagai sesuatu yang ada dalam buku sejarah saya, yang saya juga tidak begitu hafal urutan peristiwa dan para tokohnya, dan mungkin hal itu tidak pernah terpikirkan oleh saya di luar pelajaran. Dan ya, memang saya juga tidak pernah ada di masa itu, jadi makin tidak ‘terasa’ lah hal itu oleh diri saya.
Sampai suatu saat, saya menonton film tentang perjuangan kemerdekaan bangsa ini. Bukan merebut kemerdekaan tepatnya, tapi mempertahankan kemerdekaan. Lalu berlanjut ke film-film serupa, yang satu dengan yang lainnya berisi hal yang sama, semangat patriotisme untuk berdirinya negeri ini. Dan satu hal yang menyadarkan saya setiap selesai menonton film-film itu, yaitu kemerdekaan bangsa ini memang tidak didapat dengan mudah. Suatu hal yang sering saya baca di buku-buku sejarah, namun saya baru menyadari betul saat itu.
Dan juga, yang saya tonton bukan tentang Bung Karno, Bung Hatta, atau Jendral Soedirman. Bukan tentang mereka. Tapi tentang orang-orang yang tidak pernah saya dengar namanya di buku sejarah. Dalam  film itu amat nyata terlihat bagaimana perjuangan mereka. Bagaimana nyawa demi nyawa melayang  terkena tembakan atau bom Belanda. Bagaimana darah adalah pemandangan sehari-hari dan hampir semua orang mengeluarkan darahnya. Dan bagaimana memang begitu besarnya semangat mereka untuk meraih kemerdekaan bangsa ini; tanpa peduli meskipun harus mengorbankan nyawa, tanpa peduli apakah nama mereka akan masuk buku sejarah atau tidak, tanpa peduli apakah mereka akan dikuburkan di taman makam pahlawan atau tidak.
Kita juga sering mendengar tentang organisasi-organsasi yang muncul di zaman itu. Kita menghafal ada Budi Utomo, Muhamadiyah, Serikat Dagang Islam,PNI, dan masih banyak lagi. Untuk kita, semua itu hanyalah organisasi, yang kita hafal siapa pendiri dan kapan berdirinya. Jarang kita berpikir lebih jauh tentang apa itu sebenarnya.
Saya pernah menonton sebuah film tentang organisasi yang berdiri masa-masa itu, yaitu organisasi Muhamadiyah. Setelah menontonnya, saya baru tersadar  ternyata bangsa kita bukan hanya berjuang lewat senjata dan darah saja. Dalam organsasi ini, mereka menyatukan semangat kebangsaan mereka dan mengeskplorasikannya dengan berbuat sebanyak-banyaknya untuk negeri. Mereka membuat sekolah umum dengan meja dan kursi, sesuatu yang amat ditentang pada waktu itu oleh para pemuka agama karena dianggap itu adalah tradisi orang Belanda. Pada masa itu, yang ada hanyalah sekolah agama yang mempelajari kitab kuning.
Sekarang ini, saya sering mendengar tentang Muhamadiyah, namun saya tidak sadar kalau itu adalah sebuah organisasi yang dibangun sejak zaman pendudukan Belanda. Dan pendirian organisasi itu juga bukan serta merta terjadi begitu saja, namun melalui proses yang panjang. Banyak warisan-warisan nenek moyang kita, yang mungkin kita bahkan tidak mengetahui esensi dari warisan itu, padahal hal-hal itu diperoleh dengan susah payah.
Lalu, apakah kita sudah dapat membayar perjuangan pahit yang dilakukan oleh para pahlawan negeri ini? Karena merdeka bukan hanya merdeka dari penjajah, bukan? Ada hal-hal yang harus kita bangun. Atau, setidaknya kita harus bangun terlebih dahulu agar menyadari apa yang seharusnya dibangun untuk negeri ini.
Sudah menjadi hal yang lumrah, lebih banyak hal negatif yang terdengar daripada hal positifnya yang kita dengar tentang negeri ini. Dalam berita yang kita tonton, lagi-lagi tentang hal-hal yang sering membuat kita membatin, “Begitu parahnya negeri ini.” Dan mungkin sebagian orang juga melihat negeri ini sudah susah untuk berubah dan bangkit lagi untuk memperbaiki diri.
Ditambah lagi ada orang-orang yang makin memperparah kerusakan negeri ini, untuk kepentingannya sendiri. Melakukan berbagai hal untuk kepentingan pihak-pihak tertentu. Bahkan ada beberapa yang  mendirikan organisasi yang berlabel organisasi kemanusiaan untuk pencitraan baik pihak tertentu, pihak yang mempunyai kepentingan.; untuk menutupi kegiatan lain yang perlahan makin memperparah keadaan bangsa ini.
Ada yang bilang, semua ini terjadi karena memang kesalahan dari awal. Karena kita dijajah oleh Belanda, yang memang sudah mengeruk habis apa yang dimiliki tanah ini. Tidak seperti Inggris yang justru membangun negeri yang dijajahnya, sehingga kini negara-negara persemakmurannya maju pesat. Di sisi lain, ada yang mengatakan kalau ini kesalahan mereka yang mempunyai melakukan segala sesuatu hanya demi kepentingannya saja, mereka-mereka yang mempunyai kepentingan, yang tidak peduli efeknya pada negeri ini.
Proses salah-menyalahkan itu tidak akan selesai sampai kapanpun, karena kita hanya terus akan menuding satu sama lain tanpa melakuan suatu hal yang berarti. Kalaupun kita menyalahkan pihak-pihak itu, apakah lantas mereka akan bertanggungjawab dan memperbaiki keadaan negeri ini? Apakah lantas keadaan membaik seperti tidak pernah terjadi apa-apa?
Bangsa kita ini memang bangsa yang masih tumbuh. Meski umur 66 tahun untuk manusia sudah cukup tua, tapi untuk sebuah negara seperti Indonesia memang masih ‘muda’, ibaratnya masih labil. Coba saja kita melihat ke belakang. Kita dijajah selama kurang lebih 3 abad. Ditambah lagi, sebelum penjajahan negeri ini terdiri dari berbagai kerajaan dari berbagai daerah. Menyatukan berbagai daerah yang tentunya berbeda kebudayaan juga, tentu saja bukan hal yang mudah. Hal ini mungkin menjadi salah satu faktor terhambatnya integrasi bangsa, karena kita masih mendengar tentang pertikaian antar suku dan daerah, meskipun memang sudah sekarang sudah banyak berkurang.
Karena itu, tidak dapat disamakan juga kondisi negara kita dengan negara lain; seperti dengan Jepang yang hancur lebur tahun 1945 dan memulai pembangunannya sama ketika kita merdeka, namun mereka sudah maju pesat. Atau dengan negara-negara persemakmuran Inggris yang tadi saya singgung diatas. Kita adalah sebuah negara multikultural dengan begitu banyaknya budaya dan keunikan masing-masing daerah.
Dan karena masih tumbuh, masih ada juga harapan untuk memperbaiki segala kondisi di negeri ini. Salah satunya dengan mulai memahami dan menghayati bagaimana sebenarnya esensi dari perjuangan merebut kemerdekaan bangsa ini. Semakin terasa berat dan panjangnya perjaungan itu, semakin kuat pula kesadaran kita untuk membangun negeri ini. Sayangnya, sejarah bangsa ini kurang bergaung di masa sekarang, terutama untuk kalangan anak muda. Euphoria kemerdekaan tenggelam bersama berlalunya waktu, dan kita makin terlupa akan bagaimana sebenarnya kemerdekaan itu. Perjuangan kemerdekaan lalu larut dalam buku sejarah yang seringkali menjadi pelajaran yang membosankan di sekolah.
Saya memberikan apresiasi sebesar-besarnya pada pihak-pihak yang berinisiatif membuat film tentang perjuangan kemerdekaan dan masa-masa sekitar itu. Karena dengan adanya film-film itu, perjuangan kemerdekaan terasa lebih hidup dan dekat dengan kita. Namun sayangnya, masih banyak orang Indonesia yang belum menonton film-film itu. Mungkin karena euphoria tentang perjuangan kemerdekaan kurang digemborkan disana-sini.
Perlu dibuat banyak hal yang kreatif dan menarik untuk mengingatkan bangsa ini, terutama kaum muda, tentang hakikat perjuangan para pendiri negeri ini. Seperti pameran atau pembangkitan euphoria melalui media, setidaknya untuk mengingatkan kembali masyarakat akan esensi dari perjuangan kemerdekaan itu.
Mengutip perkataan KH. Ahmad Dahlan di film Sang Pencerah, “Hidupilah Muhamadiyah, jangan mencari hidup dalam Muhamadiyah.” Seperti itu juga terhadap negeri ini. Bukan mencari hidup, tapi hidupi bangsa ini. Maka mari kita berbuat sesuatu untuk negeri, bukan terus mengeruk apa yang ada di dalamnya untuk kepentingan diri sendiri.

Ditulis oleh:     Aziyah Hazrina
                        1111003015
Ilmu Komunikasi 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar